R.A. Kartini : Inspirasi Kesetaraan Gender




Saya tahu, jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang: jalan itu berbatu-batu, berjendal-jendal, licin ... belum dirintis! Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan, saya akan mati bahagia. Sebab jalan itu sudah terbuka dan saya turut membantu meneratas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputra. ("Surat Karlini ").

Kartini adalah legenda. Hidupnya memang singkat, namun begitu banyak yang ia perbuat dalam kehidupannya. Dulu pranata dan sistem nilai dalam masyarakat tidak selunak sekarang. Perempuan sangat terpinggirkan. Jargon perempuan sebagai konco wingking membuat mereka tidak leluasa mengoptimalisasi potensi dirinya.
Raden Ajeng Kartini adalah salah satu "korbannya". Tidak mudah bagi putri bangsawan ini untuk sendirian mendobrak kungkungan adat. Kaum perempuan diciptakan sarna dengan laki-laki, dan hanya berbeda dalam bentuk fisik. Karena itu, Kartini berpendapat bahwa pendidikan tidak perlu menjadi hak istimewa kaurn laki-Iaki, tapi juga hak kaum perernpuan.
Kartini adalah putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879. Sejak kecil ia ingin menjadi seorang dokter. Tetapi, ia hanya bisa bersekolah hingga usia 12 tahun. Setelah itu ia dipingit sampai ada lelaki yang mau menyuntingnya.

Selama masa pingitan itu  Kartini terpaksa berada di tengah tengah orang orang dewasa. Dalam dilingkungan seperti itu seringkali Kartini mendengar perkataan kurang senonoh yang semestinya tidak pantas terlontar dari mulut mereka, dan bagi Kartini hal tersebut sangat tidak sopan. Hal itu sangat melukai dan menggoncangkan hatinya yang begitu perasa. Keadaan bertahun tahun dalam pingitan tak dapat dihindari, akibatnya puteri belia ini menjadi dewasa sebelum waktunya.
“Kau hanya wanita; mau jadi apakah selain jadi Raden Ayu”. Rupanya kata kata  “kau hanya wanita saja”, menyulut rasa empati dan simpatinya terhadap nasib wanita. Ia rasakan pemeo kesewenang wenangan kaum pria itu sebagai penghinaan yang melukai perasaannya yang halus dan tinggi budi. Ia marah, emosinya terbakar dan tangan yang belia itu mengepal dengan ‘geram’ . Ia ingin memprotes ketidakadilan kuasa adat feodal masa itu. Ia pernah berkeluh dalam surat :

“Siapa yang melihat atau menduga dahsyatnya pergolakan yang menggelora dalam batin gadis remaja ini?, Tidak ada seorangpun yang dapat menduganya. Ia menderita seorang diri. Tidak ada orangtua atau saudara yang dapat menduga apa yang bergolak dalam hatinya, dan memberikan simpati kepadanya. Di manakah ia akan dapat meletakkan kepalanya yang capek ini dan melepaskan tangis kesedihannya?”.

Dalam suratnya kepada Abendanon, Direktur Pengajaran Belanda, yang menjadi teman dekatnya. ….” hati wanita sudah cukup mengeluarkan darah, dan banyak anak kecil sudah cukup menderita. Saudaraku dengan hatimu yang hangat, pandanganmu yang luas dan jiwamu yang kaya, ulurkanlah tanganmu, tariklah kami dari kubangan kenistaan, di mana kami dijerumuskan oleh egoisme laki laki. Tolonglah kami melawan egoisme kaum laki laki yang tak tahu perikemanusiaan itu, syaitan telah berabad abad menyakiti dan menginjak nginjak kaum wanita. Sehingga mereka, karena telah terbiasa disiksa, tidak merasakannya lagi sebagai suatu ketidak adilan, melainkan menerimanya dengan segala kerendahan hatian dan berdiam diri., serta menganggap semua itu sebagai hak yang sewajarnya dari kaum pria, sebagai warisan derita dari setiap wanita. Betul, saya masih muda , tetapi saya tidak tuli, tidak pula buta. Saya telah mendengar dan melihat banyak, bahkan terlalu banyak mungkin yang meremas remas hatiku, yang melecut hatiku terhadap kebiasaan kebiasaan kolot yang karatan, yang menjadi kutukan bagi kaum wanita dan anak anak.

Kartini ditakdirkan sebagai wanita yang cerdas dan pemikir, keadaan masyarakat yang serba tidak menguntungkan dan tidak adil bagi kaum wanita menjadi cambuk baginya untuk mengetahui apa sebab ketidak adilan itu. Pikirannya yang cerdas meski masih berumur belasan tahun berpusat pada dua pertanyaan:
(1) Apa sebab wanita sampai dapat dijadikan obyek kesenangan kaum pria seakan akan mereka tidak mempunyai pikiran dan pendapat atau perasaan sendiri ?
(2) Dan sebaliknya, apa sebab kaum pria sampai menganggap wanita sebagai sebuah “golek” sebuah boneka, barang mati yang boleh diperlakukan semaunya, seolah olah wanita itu bukan sesama manusia ?

Bagi Kartini sudah jelas dalam keadaan adat feodal saat itu, bahwa wanita dalam perkawinan lebih banyak mengalami duka daripada suka. Sebab sang suami tidak hanya boleh mempunyai isteri lebih dari satu, tetapi disamping itu ia juga masih dapat menyeleweng memelihara wanita wanita lain tanpa dikawin. Yang lebih lebih mengherankan bagi Kartini ialah bahwa banyak Raden Ayu Raden Ayu itu dalam pertemuan pertemuan di Kabupaten dapat menceritakan persoalan persoalan intern mereka masing masing sambil tertawa, seolah olah menceritakan lelucon. Padahal semua orang tahu bahwa hati mereka menderita pedih karena kelakuan suami mereka. Kartini tidak mengerti untuk apa mereka saling mengelabui mata, saling main sandiwara.

Kartini menganalisa dan berdialog sendiri, lambat laun tirai kabut membuka, Ia mulai menyadari bahwa adat feodal itu dapat bertahan sekian lamanya KARENA KAUM WANITA SELALU MENERIMA NASIBNYA DENGAN BERDIAM DIRI (bahasa jawa : “NRIMA”)!, mereka tidak pernah menentang, tidak pernah memberontak. Mengapa ? karena mereka takut. Mengapa mereka takut? Tentu ada konsekuensi yang berat? Apakah itu? Mereka takut dicerai ! Tetapi mengapa mereka takut dicerai ? Bukankah mereka malahan menjadi bebas, lepas dari belenggunya, kalau dicerai? Betul, tetapi kebebasan itu membawa konsekuensi lain : mereka akan kehilangan nafkahnya dan akan terlantar!., Wanita kalangan ningrat tidak pernah bekerja. tidak pernah dididik supaya dapat bekerja mencari nafkah sendiri, maka juga tidak dapat berdiri sendiri dan tergantung pada suaminya.

Kenapa wanita bodoh (pada saat itu), karena wanita tidak mendapat kesempatan pendidikan yang sama seperti orang laki laki, dan tidak pernah mau membaca, sehingga tidak mendapat kemajuan. Kenapa hal sedemikian itu terjadi. Karena kaum laki laki memelihara kondisi itu supaya bisa terus memandang rendah kaum wanita. Disinilah penemuan Kartini yang penting “Pria itu Egoistis dan Wanita itu Bodoh, Di situlah sumber segala derita kaumnya!

Kalau begitu bagaimana cara memperbaikinya ? Kartini yang saat itu baru berusia 13 Tahun (menakjubkan) dalam kesunyian kurungan masa pingitannya berkesimpulan :

(1) Pertama, kaum wanita harus juga diberi pendidikan supaya dapat mengejar ketertinggalannya. Tidak hanya di sekolah rendah, tetapi juga dapat meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi, supaya dapat sejajar dengan saudara saudaranya yang laki laki. Wanita yang terpelajar dapat bekerja sendiri, mencari nafkah sendiri, dan hidup tidak tergantung dari suaminya. Dan ia juga tidak dapat dipaksa untuk kawin dan dimadu. Bukankah itu suatu ideal yang mulia?

(2) Sebaliknya, anak laki laki perlu juga diberi tambahan pendidikan supaya tidak egoistis. Jadi pendididkan moral supaya bersikap sopan santun terhadap wanita, dan tidak memandang wanita itu sebagai makhluk dari tingkat rendah.

Kartini mulai diteguhkan dan dari balik dinding pingitan, ia rnulai berbuat sesuatu. Kartini mulai membuka sekolah bagi para gadis Jepara.

Kartini dan ketiga adiknya Rukmini, Kartinah dan Soemarti ketika menjadi guru
Tragiis, cita-cita mulianya sekali lagi harus terhempas kandas oleh kekuasaan adat. Sudah ada rencana lain untuknya, yakni menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat. Padahal beberapa saat menjelang perkawinannya, ia menerima surat dari pemerintah Belanda yang mengabulkan permohonannya bersekolah di Eropa. 
Dalam kegalauan yang sedih dan terus menerus memikirkan nasib kaumnya. Kartini wafat didalam usia perkawinan yang singkat, Ia meninggal dunia dalam usia 25 tahun, tak lama setelah melahirkan putra pertamanya, Singgih. Ia dimakamkan di Rembang.

Kartini memang sudah lama tiada, tapi jati diri Pahlawan Kemerdekaan Nasional ini akan terus menjadi aspirasi dalam perjuangan perempuan. Kepeloporannya tidak hanya terwujud dalam sekolah khusus perempuan yang menggunakan namanya, tapi juga membersitkan sebuah harapan - Habis Gelap Terbitlah Terang. Nasib kaum perempuan Indonesia masa kini memang telah terang-benderang, dan itulah jasa R.A. Kartini.

Lirik lagu Ibu Kita Kartini 
karya : W.R. Supratman 

Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya
Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Ibu kita Kartini
Putri jauhari
Putri yang berjasa
Se Indonesia


Sumber tulisan : 
100 Tokoh yang Mengubah Indonesia _ Floriberta Aning
Kartini sebuah biografi _ Sitisoemandari Soeroto
                  
Letters of a Javanese Princess (2005)
Raden Adjeng Kartini, Agnes Louise Symmers (translator)
Format PDF 14.1 MB
Pages 336

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...